Abu Sofian, Felix Siauw dan Ust Abdul Shomad

Hari hari keresahan harusnya selesai. Namun, tak semudah itu. Ada pelajaran terpenting dalam hidup saya ketika terjun dalam dinamika dakwah di Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar. Setelah berhasil memenangkan Ahmad Qodratu jadi ketua umum. Saya berpikir suasana belajar akan jadi kondusif, ternyata tidak. Ada gesekan, bukan karena adanya liberalisme semata. Tapi, diantara para penggerak. Beberapa senior sentil menyentil sesame aktivis dakwah. Mulai dari yang merasa paling berjasa, yang tidak terima dengan keputusan musyarawah untuk memilih Qodrat jadi ketua umum, dan setumpuk konflik internal yang berangkat dari salah paham komunikasi dan keakuan diantara kita. Terutama dari klan tarbiyah, baik dari tarbiyah secara kultural ataupun dari mereka yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah partai Islam dengan logo berwarna dominan hitam dan kuning.

 

Saya yang cuma anak kemarin sore hanya tahu belajar dan bermain, sesekali melirik akhwat akhwat yang mungkin bisa dipilih satu untuk target jadi Istri saat itu. Maklum masih jomblo. Gesekan memang terus meruncing, hingga masa kepemimpinan mas Qodrat selesai. Musyawarah lengkap keduapun tiba. Kami saat itu tidak melihat ada gerakan liberal dan sejenisnya, saat itu kami berhadapan sesama saudara. Hari itu, saya merasakan perang saudara diantara sesame aktifis. Gesekan yang menciptakan tiga kubu. Kubu A dan B dan kubu netral C. Ketiga kubu ini, sebelumnya ada dalam satu barisan.

 

Saya yang kebetulan dekat dengan mas Qodrat dianggap kubu beliau, padahal saya tipe orang yang bisa bermain dengan siapa saja. Lalu ada anak anak baru yang tidak tahu apa apa soal gesekan ini bersifat netral. Pada saat musyawarah lengkap kedua ini. Hari itu saya melihat kelompok tarbiyah melawan kelompok tarbiyah. Sesuatu yang buat saya klise tapi itu terjadi.

 

Chaerul, Semoga Selalu Dalam Kebaikan Allah My Bro

Saya yang dekat dengan lintas angkatan diminta beberapa orang termasuk mas Qodrat untuk maju jadi ketua umum. Jujur, saya sendiri bertanya kenapa saya? Masih banyak yang lebih kapabel. Sementara kubu tarbiyah yang lain memunculkan satu nama Rochman. Seorang sahabat dengan semua sifat lembutnya. Rochman sangat dekat dengan Chaerul, saya tahu betul Chaerul. Dia orang yang istimewa buat saya. Dialah orang yang memfollow up saya ketika baru masuk YISC. Chaerul saya akan mengenang dia, tiap senyum, semangat dan cara dia memaintenance kami untuk sadar dan kritis pada liberalisasi Islam. Tapi hari itu kami bersebrangan. Beberapa senior mendidik juniornya untuk menempatkan Chaerul dan Rochman sebagai musuh. Isu saling mengkhianati dan lain sebagainya. Sementara saya hanya melihat ini dalam kondisi ragu, bertanya bin bingung. Siapa sebenarnya yang benar dan salah? Sebegitu sulitnyakah saling memaafkan?

 

Di Musyawarah Lengkap YISC itu, saya harus berhadapan dengan saudara saya sendiri. Kami ada dipanggung utama. Hanya Rochman dan Saya pada akhirnya. Tapi saya memang tidak pernah mau jabatan itu. Secara suara, ada tiga angkatan mendukung saya. Angka 60% suara sudah saya dapatkan pasti untuk jadi ketua YISC Al Azhar. Tapi, saya takut. Sifat urakan saya, proses belajar saya, keteladanan saya masih buruk. Saya ini hanya bermodal semangat, sejatinya ilmu sayapun masih minim. Jadilah di salah satu tes didepan audiens kami disuruh membaca salah satu surat Al Quran. Saat itu yang di tes adalah tajwid atau disiplin ilmu membaca Al Quran. Walau ada kesempatan untuk latihan, tapi saya memang tidak mau latihan. Semua pengusung saya tidak tahu, hingga tulisan ini saya tulis. Saya sengaja membaca Surat itu dengan salah tajwid. Saya sayang Rochman, Chaerul dan Qodrat. Kalau seandainya saya jadi ketua, selain managerial yang hancur, saya yakin gesekan antara orang tarbiyah ini akan semakin tajam. Dan benar, kubu pendukung Rochman bergembira karena bacaan Al Quran Rochman lebih baik. Saya berbisik kepada beberapa wakil angkatan, saya bilang pilih Rochman. Beberapa tidak setuju, kecewa sekali dengan saya. Bagi saya itu pilihan. Rochman punya basic agama yang lebih baik dari saya.

 

Hari itu saya harus berhadapan dengan kekecewaan pendukung saya. Satu persatu mulai tidak datang ke Masjid Al Azhar. Orang orang baru bermunculan. Proses transisi managemen Yisc Al Azhar ke kurikulum yang kaffah berlanjut. Rochman dengan semua keterbatasannya melanjutkan program kerja mas Qodrat. Habis Rochman penggantinya adalah Alvin. YISC terus membaik, namun gesekan ini terus belum tuntas. Saya dikepengerusan Alvin sudah jarang muncul. Karena saya pikir sudah kondusif. Ternyata ada saja isu isu tidak jelas dengan semua rumor pecah belah ini. Sampai saya sadar, bahwa memang orang orang lama harus di cut dari YISC Al Azhar. Kita harus menyerahkan YISC ke orang orang yang memang tidak ada sangkut pautnya sama  apa yang terjadi pada era pasca Mas Qodrat terpilih. YISC butuh orang yang bisa merangkul semua. Yang bisa melerai jarak, yang bisa menyembuhkan luka.

Fauzi Hasan, Sehat terus sahabatku

Sayapun kembali secara diam diam. Kami punya calon setelah Alvin untuk memfasilitasi rekonsiliasi ini. Orang itu adalah Fauzi Hazan. Fauzi tahu beratnya jadi ketua YISC. Kami coba merampungkan dan menyakinkan dia. Bahwa dia bisa jadi solusi untuk membereskan gesekan internal ini. Walau diapun mengiyakan di detik detik terakhir. akhirnya Fauzi Hasanpun berhasil kami golkan dengan segudang strategi. Dan benar, Fauzi mampu merangkul semua. Gesekan mulai berkurang, beberapa sudah mulai duduk bareng syuro. Kadang saya suka bertanya dari kejauhan gmana perkembangan YISC? Salah satunya ke rekan saya namanya Abu Sofian. Yang memang satu tim dengan saya sebagai tim sukses Fauzi Hasan.

 

Setelah kepengurusan Fauzi, ternyata saya masih di kontak Abu Sofian. Masih ada tugas terakhir. Finishing touch untuk YISC Al Azhar. Ini seperti mission imposible. Masih ada beberapa pihak suka mancing rumor, meski tinggal sedikit. Tapi bisa mengganggu untuk anak anak yang baru gabung YISC. Dari kelompok Liberal? Bukan dari internal yang itu itu saja. Baiklah, sayapun mengiyakan Abu Sofian. Kamipun mulai menggagas, memetakan titik masalah egosentris ini dan arahnya satu. Kami mau orang orang lama hengkang, termasuk saya. Agar konflik internal ini benar benar lerai. Sudah 6 tahun berlalu, masih saja tidak beres.

 

Indria dan Machsan, Sangat pengerat! miss you to bro

Sayangnya Abu Sofian terjebak bargaining saya. Saya meminta dia yang jadi ketua umum. Sama dia juga tidak mau. Saya kejar, saya jelasin alasannya. Dia takut dituduh gila jabatan dan sebagainya. Saya adalah salah satu orang yang menyakinkan dia, persis ketika kami berdua menyakinkan Fauzi Hasan. Hingga akhirnya, Abu mau. Dan dengan izin Allah. Meskipun saya tidak mendapat jatah masuk ke dalam Musyawarah Lengkap tahun itu. Tapi saya diizinkan Allah memiliki kekuatan untuk menyetir kekuatan dari luar ruang Musyawarah Lengkap. Setelah saya dengar Abu terpilih. Saya menatap langit, tidak terasa itulah malam perpisahan saya sebagai alumni YISC. Saya titip tempat ini pada Allah. Dengan semua ceritanya. YISC adalah bagian terpenting perjalanan saya bukan hanya belajar Islam, tapi juga berorganisasi, bersabar dengan perbedaan pendapat. Sudah hamper 15 tahun berlalu sejak saya pertama kali datang ke remaja masjid dengan anggota terbesar di dunia itu.

 

Hari ini, kami lihat ada wajah Felix Siauw disana, Salim A Fillah, hingga ustad ustad masa kini jadi narasumber. Semoga kau tenang disana Buya Hamka, sang pelopor Masjid Agung Al Azhar. Semoga Allah nanti mempertemukan kita Buya. Pulang dari menyukseskan Abu Sofian itu, saya meminta Istri saya untuk tidak memanggil saya Abi lagi, saya meminta dia memanggil saya Buya. Karena dengan itulah saya bisa melepaskan rasa rindu saya pada YISC Al Azhar terlebih pada Buya Hamka.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here