Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar tidak cuma jadi lingkungan baru bagi saya relajar Islam. Namun, disini juga tempãt saya berjuang pertama kali. Ketika kami menemukan banyak kejanggalan proses belajar. Ilmu ilmu yang kontra logika, terlebih melabrak nilai nilai Al Quran yang saya pelajari. Saya jadi kritis, ada yang tidak beres.

Ada yang ngajarin sholat tidak perlu ke arah kiblat. Ada yang ajarin sholat 3 waktu saja. Ada yang bilan Nabi Muhammad bukan nabi, yang nabi itu Al Bin Abu Thalib. Ada yang bilag syekh siti jennar itu yang benar, ke 9 wali songo itu iri dengan Syekh Siti Jennar, dan banyak lagi. Pemikiran bebas begitu liar. Beberapa kawan kawan menyebutnya liberalisme Islam.

Pada saat yang sama saya dipertemukan dengan kawan kawan yang memiliki kegelisahan yang sama. Dari yang senior sampai angkatan baru, mereka gelisah. Ada yang aneh dengan kultur saat itu. Kawan kawan dari berbagai latar belakang ormas, keluarga maupun lingkungan. Kami butuh ketua YISC yang paham soal Al Quran dan As Sunnah, yang tahu betul fundamentalisme Buya Hamka sebagai stake houlder Masjid Agung Al Azhar. Sampai tiba waktunya sebuah momen pergantian ketua umum YISC. semacam pemilu internal yang kami sebut Musyawah Lengkap (Musleng) YISC Al Azhar.

KORDINASI LINTAS GERAKAN

Musuh kamı saat itu adalah liberalisasi Islam. Maksud liberalisasi disini adalah kultur kebebasan mentafsirkan Islam semau gue. Anak anak yang cuma belalar agama pada tingkat remaja masjid bisa seenaknya bikin ijtihad, mewariskan rawian cerita yang tidak mendasar. Keliaran ini harus dihentikan.

Saya lantas melanjutkan kordinasi dengan kawan kawan yang memiliki kegelisahan yang sama. Dari berbagai anak anak yang punya latar belakang organisasi dan jamaah Islam yang beragam. Hari itu kami membuka semua baju organisasi kami, kami turunkan semua ego golongan dan fikroh Islam kami. Kami bersatu dibawah satu naungan “La Illah Ha Ilallah Muhammad Rasulullah”. Sebuah kalimat yang lagi heboh dibahas saat ini, konon sebuah organisasi bernama Banser baru saja membakar bendera itu di sebuah acara santri di Jawa Barat. diluar permasalahan apakah itu bendera sebuah ormas terlarang, bagi saya, membakar kain yang ada tulisan Tauhid itu tetap sesuatu yang tidak bisa dibenarkan. Karena kalimat itu pernah menjadi barometer kami, terutama ketika saya mengenang perjuangan di YISC Al Azhar.

Hanya dengan kalimat itu semua ego golongan bisa runtuh, dan membuat kami merapatkan barisan melawan satu arus paling menjijikan dalam sejarah dakwah yaitu gerakan Liberalisasi Islam. Dipilih menjadi korlap untuk kordinasi lintas angkatan, saya menjalankan amañah itu dengan total. Satu komando dibawah saya, beberapa angkatan alhamdulillah bisa memberikan ketaatan pada semua arahan saya. YISC Al Azhar harus keluar dari keliaran pemikiran Islam. YISC Al Azhar harus kembali pada filter edukasi yang berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah.

Yang paling sulit adalah memilih siapa yang mampu memimpin? saya? saya termasuk kandidat, tapi tidak mungkin. Saya tidak punya kapasitas memimpin. Masih ada yang lebih senior. Saya ingat nama nama yang muncul, mas Johan, mas Qodrat, dan banyak lagi dari kalangan kami kelompok anti liberalisme Islam. Selama 3 harı 3 malam Musleng YISC AL Azhar itu berlangsung. Dan Musleng saat itu adalah Musleng paling alot dan paling lama dalam sejarah YISC Al Azhar katanya.

Kami harus mengajukan calon yang berhadapan dengan calon yang kami anggap polos terhadap isu liberalisasi Islam. Jadilah kerut dahi, argumentasi, tunjukkan tunjukkan, sampai saya bahkan melakukan tekanan tekanan psikologis terhadap kelompok lawan yang mengancam melakukan kekerasan. Saya pasang badan, bersama seorang sahabat yang tahun ini sudah berangkat lebih dulu menghadap Allah, Rudy Maulana, Almarhum adalah sahabat yang luar biasa dalam perjalanan itu.

Rudy Maulana. Senin 24 September 2018 jam 9.30 Aku begitu kehilangan dirimu

Kalau tidak ada Rudy, saya mungkin sudah mukulin seorang dari kelompok kontra kami di depan universitas Al Azhar saat itu. Orang itu berlaku argan, mengancam kakan kawan dengan kekerasan. Saya menantangnya berkelahi, tapi Rudy menaçant saya. Saya hanya memberinya peringatan keras.

Masuk hari ketiga kami sudah lelah sekali. Tidak tidur, sibuk dengan kordinasi. Saya ingat betul kondisi deadlock terjadi, dipuncak musleng votingpun jadi pilihan terakhir. Akhirnya, dengan izin Allah, kami memenangkan voting. Revolusi di YISC Al Azhar dimulai, dengan kerja kolektif, Mas Johan mengalah. Semua suara kami berikan untuk mas Qodrat. 2006 itu, kerinduan teman teman agar YISC mengundang pembicara bicara yang paham soal Al Quran dan As Sunnah bisa terjawab. Mas Qodrat sebagai ketua umum baru memiliki latar belakang Tarbiyah yang baik, kami berharap ini jadi sinyal baik untuk remaja masjid terbesar di dunia tersebut.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here