Perjalanan ngeband saya selesai. Bandpun bubar, sementara hijrah saya mengikuti Tarbiyah juga selesai. Habis itu? Saya memiliki seorang kenalan wanita bernama Wenny. Dia kakak kelas waktu sekolah. Sering saya telpon dia. Dan berbagi. Wenny selalu menguatkan. Proses- proses yang saya lewati ada juga yang saya ceritakan. Saya mulai malas malasan datang ke PKS di tahun itu. Bahkan saya mulai mampir ke taklim taklim organisasi Islam lain. Baik dari jamaah Salafi hingga dulu ormas yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir dan Abu Jibril, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Tujuannya satu saya hanya ingin belajar Islam.

Namun, sikap saya yang suka pergi ke pengajian lain sering juga dinilai sinis oleh rekan rekan PKS di Bekasi saat itu. Saya bingung sekali, salahnya dimana. “Beda Fikroh” kata mereka. Saya jadi teringat agama ayah saya. Ada protestan, Advent, Bethel hingga katolik. Tapi mereka bisa akur. Kenapa di Islam saya menemukan sentimental sektarian yang begitu kuat? Pertanyaan itu terus muncul. Dari Wenny, sayapun diajak bergabung dengan sebuah tempat pengajian yang menurut dia cocok dengan karakter saya. Nama tempat itu Youth Islamic Study Club Al Azhar disingkat YISC Al Azhar. Remaja masjid Agung Al Azhar, di kebayoran baru Jakarta Selatan.

Tahun 2004, saya bergabung di YISC. Dan di YISC, Wenny di kenal dengan panggilan Billy. Seorang wanita baik, yang adiknya bernama Bilal adalah sahabat saya semasa SMA. Saya yang memang mulai  meninggalkan pengajian PKS mulai lagi menikmati sebuah komunitas belajar Islam. Disebuah kelompok remaja masjid terbesar di dunia, YISC Al Azhar.

Hari pertama saya di YISC tidak berjalan lancer. Pengajar menjelaskan soal Syekh Siti Jennar. Siti Jennar adalah seorang tokoh dalam perjalanan Islam Nusantara di era dakwan Wali Songo. Beliau dianggap oleh Wali Songo sebagai figur yang melenceng. Salah satu yang klise di kelas adalah perspektif yang mengatakan boleh tidak sholat lima waktu asal kita berkelakuan baik. Kalimat itu dikutip oleh pengajar di YISC Al Azhar tersebut dari Siti jennar. Langsung saya protes di kelas. Sikap saya menarik perhatian kelas. Ya begitulah, langsunglah tenar nama saya. Terlebih teman teman di kelas memang tidak setuju dengan apa yang disampaikan pengajar.

Usai kelas, saya di dekati oleh beberapa orang. Diajak bertemu, berkenalan. lalu mereka bilang lagi soal istilah tarbiyah. Hm…saya seperti merasakan pola yang sama dengan di Bekasi. Mereka belum menunjukkan siapa mereka. Tapi mereka baik, dan ramah. Lalu saat dzuhur kami janjian di Masjid Al Azhar. Saya digiring bertemu dengan satu orang yang sedang duduk di salah satu tiang masjid. Kami berkenalan. Orang itu mengenal saya terlebih dahulu.

“Antum Thufail?” Tanya orang itu.

“Antum?” dalam hati saya berbisik soal kosakata yang seragam dengan komunal yang baru saya tinggalkan di Bekasi.

“Iya” Jawab saya.

“Ane Qodrat” Orang itu memperkenalkan diri.

Saya dikelilingi beberapa orang di masjid itu. Kami ngobrol banyak. yang paling kental soal dakwan seorang ulama kontemporer bernama Hasan Al Banna, pendiri sebuah gerakan bernama Ikhwanul Muslimin. Saya masih bingung arah bicara lelaki bernama Ahmad Qodratu ini kemana.

“Banyak orang mengajarkan liberalisasi Islam di sini akh” kata beliau ke saya.

“……….” Saya menyimak

“YISC harus kita kembalikan kepada apa yang sudah diwariskan Buya Hamka” katanya.

Saya sendiri saat itu tidak tahu Buya Hamka itu siapa.

“Itulah tujuan dakwah kita disini, membuat YISC kembali pada Al Quran dan As Sunnah, merebutnya dari jaringan liberal” katanya.

Di situ saya nyambung. Pantes pengajar di kelas tadi bikin saya protes. Ternyata ada kondisi yang diluar harapan saya soal YISC. Saya yang tadinya ingin belajar, malah dapat jatah suruh ikut berpolitik kecil di remaja masjid ini. Karena tujuannya relevan melawan liberalisasi agama. Sayapun mengamininya. Di YISC saya banyak berkenalan dan pemikiran Buya Hamka. Yang fenomenal memang kajian tafsir Al Azhar setiap minggu pagi.

Selama setahun di YISC kami berjalan. Tak ada hal hal yang meresahkan. Semua bahagia dan senang. Sholat di masjid, baca Al Quran satu juz sehari jadi gaya hidup. Sampai satu hari saya dapat kabar. Namun pertumbuhan komunal anti liberal malah bertambah. Tiap angkatan selalu ada kasus kasus peserta kelas protes. Kita ketemu orang yang sholat tidak menghadap kiblat. Ketemu orang yang bila sholat cukup tiga waktu, sampai yang bilang  Jibril salah nurunin wahyu. Harusnya yang jadi nabi itu Ali Bin Abu Thalib buka Nabi Muhammad. Ampun dah.

Hingga akhirnya, resistensi personal bertemu dengan personal yang lain. Kami menjadi sebuah komunal. Hingga kumpulan kumpulan itu menggagas sebuah perubahan di YISC.

“Sebentar lagi musyawarah lengkap,” disebuah kegiatan ngumpul ucapan itu keluar dari bêberapa senior.

“kita harus bisa merubah kurikulum YISC agar sesuai Al Quran dan As SUnnah” tambah orang tersebut.

“Karena itu, ketua umum YISC selanjutnya jangan sampai dipegang orang yang buta pada liberalisme”. begitulah beberapa poin yang saya tangkap.

Diskusi terjadi. Tahun 2004, adalah momen dimana saya pertama kali tahu yang namanya politik dakwah Islam. Menyelamatkan sebuah remaja masjid yang konon terinfiltrasi pemikiran pemikiran dari oknum oknum liberal. Saya untuk pertama kali belajar miniatur politik dakwah di YISC Al Azhar. inilah rona politik Islam yang pertama kali saya rasakan, The Battle Of Yisc Al Azhar.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here