Sejak Ali Utrujjah berhenti liqo. Saya berjalan sendiri. Cari cari tahu sendiri. Saya sadari rasa ingin tahu akan sesuatu begitu kuat dalam diri saya. Namun, kegamangan saya di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dimulai ketika saya ingin menikah. Sebagai orang yang tahu bablasnya kehidupan bebas, candu hubungan biologis diluar nikah memang salah satu hal yang terberat yang harus saya taklukan. Saya bisa sabar dengan kemiskinan, saya tidak tertarik dengan kekuasaan. Tapi kelemahan saya selalu itu, perempuan. Budaya pacaran yang bablas semasa sekolah dulu, kini harus saya tinggalkan. Dulu saya tidak tahu apa itu definisi Zina. Saat mulai tarbiyah, jangankan zina, lihat wajah lawan jenis aja sudah sebuah masalah yang tidak sepele, dan kami dididik bahwa itu dilarang dalam agama.

Karena saya tak mau terjebak dengan masa lalu itu, Saya ingin menikah. Karena saya ingin menjaga kemaluan saya. Terlebih saya iri dengan banyak orang ketika Ramadhan tiba. Mereka berkumpul dengan keluarga mereka, sementara saya, setiap saat Ramadhan hanya bisa mengusap air mata merindukan keluarga saya. Berharap suatu saat merasakan Ramadhan dengan ayah dan ibu kandung saya sendiri sebagai muslim. Mungkin dengan menikah, saya bisa sedikit merasakan nikmatnya melewati ramadhan dan idul fitri, dan tentunya bisa memiliki penyaluran yang halal kala hasrat biologis membutuhkan tempat pelampiasan sesuai standarisasi aturan agama.

Namun, tak semudah itu. Syarat untuk menghafalkan dulu juz 30 sebelum menikah salah satu kendala utama saya. Saat itu, berpacaran sebagai hal yang haram sudah saya pahami. Melalui proses taaruf pengajian saya harap bisa dapat istri yang bisa jadi teman saya menuju hari tua. Tapi, tidak semudah itu. Ustad saya ragu pada saya. Hafalan Al Qur’an yang tidak bertambah, ditambah pemasukan ekonomi yang belum keluar dari standar kemiskinan. Membuat saya sulit mendapatkan Istri.

Diantara Tuduhan Misi Kristenisasi

Seorang sahabat, disebuah sekolah Islam tempat saya mengajar bersama akhirnya bicara. Karena orang tersebut tinggal di lingkungan Islamic Center Iqro Pondok Gede, yang notabene dekat dengan para founder PKS sekelas almarhum Rahmat Abdullah ini coba jujur pada saya. Kata rekan yang juga seorang penghafal Al Qur’an tersebut saya sulit mendapatkan akhwat (wanita calon istri) karena murobbi (guru ngaji) saya tidak tsiqoh (percaya) dengan keseriusan saya berIslam. Kendala utamanya cuma satu hafalan Al Quran.

“Ya antum tahu banyak sekali muslimah yang dinikahi mualaf lalu setelah hamil dan punya anak, mualaf itu murtad lagi ke agama sebelumnya” salah satu kutipan yang tidak bisa saya lupakan hari itu.

Saat itu, diotak saya hanya mencari cara untuk membuktikan bahwa saya serius berislam. Masalahnya menghafal Al Quran tidak semudah membalikan telapak tangan. Setiap kali mencoba menghafal saya terkendala dengan banyaknya hal yang saya pikirkan. Kegelisahan soal orang tua, masalah kecukupan ekonomi bagi saya sendiri yang saat itu 2003an hanya mengajar dengan gaji 200.000/bulan. Ditambah tentu imajinasi kehidupan bebas yang bablas, yang suka datang mendadak hanya mampu saya lawan dengan beristighfar, berpuasa dan berkumpul dalam rutinitas dakwah bersama teman teman pengajian terus saya lakukan.

Masalahnya dalam 24 jam sehari ada waktu dimana saya kembali sendiri. Pada saat itu, beratnya pertarungan dalam diri itu mempersulit saya menghafal Al Quran. Sedih jelas, apalagi tuduhan saya tidak serius berIslam juga terus menyebar dari satu mulut ke mulut kader yang lain. Kalimat “hati hati dengan Thufail Al Ghifari katanya dia agen inteligen” pun sampai berbisik ke kuping saya. Terpukul jelas, tapi saya terus berusaha berpikir positif.

Semua tuduhan yang melahirkan kegelisahan itu cukup membuat saya kepikiran. Terlebih trend baru muncul di kalangan aktivis PKS saat itu. Namanya ‘virus merah jambu’ (VMJ). Trend VMJ adalah trend pacaran diam diam para kader dakwah. Ada yang blak blakan ada yang ngeles bilang ta’aruf tapi sampai setahun bahkan lebih. Terpleset dalam fenomena ini membuat saya cukup punya alasan untuk malu datang liqo. Lagipula, keislaman sayapun diragukan oleh mereka.

Pada saat yang sama, ada pertanyaan terbesit di hati kecil saya. Kesalahan ikhtilat, membuat hati nurani saya berbisik. “Bukan disini tempatmu Thufail”. Bisikan itu terus dan selalu ada sejak saat itu. Saya pernah menjalani hukuman didiamkan selama sebulan. Karena sebuah kesalahan ikhtilat. fenomena VMJ, membuat banyak aktivis tergelincir. Di sebuah sekolah islam tempat saya mengajar saya dihukum tengan didiamkan selama sebulan. Salam saya tidak dijawab, tidak diajak bicara. Saya jalan dengan ikhlas.

Karena saya orang yang kritis. muncul pertanyaan. knapa hanya saya yang dibeginikan? sementara banyak kader lain melakukan hal yang sama. chatting akhwat diam diam. bahkan berduaan. berpacaran tapi tidak mau mengakui hanya bilang “ini sedang taaruf” dan lain sebagainya. pertanyaan terus muncul, tidak saya ungkapkan. Terlebih di PKS saat itu. anda harus menikah melalui proses perkenalan dari guru ngaji, jika tidak, akan ada hukuman layaknya sebuah pelanggaran terhadap syariat Islam. Minimal anda akan dianggap tidak taat jamaah PKS. Bagi saya yang baru mengaji, mengimani hal itu sebagai ibadah adalah penting.

Sampai saya sadar bahwa Islam tidak sekaku itu soal menikah. Lagipula banyak kader yang tidak melakukan itu, mereka menikah sendiri dan tidak ada masalah. Lebih dongkolnya lagi, ketika saya lihat banyak yang menikah tanpa harus hafal juz 30 dulu. Sementara saya masih harás melewati syarat yang cukup berat itu. Sudahlah, sayapun berhenti liqo untuk pertama kali. Saat itu saya berharap, mereka yang mempersulit saya menikah lebih tenang dengan ketidakhadiran saya di jamaah mereka, anak yang mereka curigai agen kristenisasi itu sudah tak ada lagi dilingkungan mereka. Saya mulas berpikir mencari ilmu agama Islam ke tempat lain. Mencari Tuhan, mencari Allah ditempat lain.

6 COMMENTS

    • semua perspektif pembaca adalar baik dan itu sah sah saja, lagi pula itu kejadian sepuluhanan tahun lalu, hanya sebuah fase perjalanan yang masih ada cerita selanjutnya, lebih dan kurangnya bagi kedua belah pihak pasti ada nilai positif yang sama sama bisa dipetik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here