Pagi itu, Papa biasa saja. Bangun pagi, sarapan dan selalu bersiap meninggalkan kami dengan kesibukan penginjilannya. Namun, sekalipun papa pergi pagi, kami tahu dia akan pulang. Semalam apapun itu kami selalu menunggunya pulang. Kalau pulang papa selalu berteriak “Ichaaaaaa….”. Icha itu nama panggilan saat saya masih kecil dulu. Papa, kadang saya suka kesal dengan dia, kenapa dia tidak memanggil nama anaknya yang lain. Kenapa selalu saya? Setiap pulang ketika badan dia begitu lelah. Dia selalu meminta saya untuk mengurut dari kaki, betis lalu badannya. Saya, saya dan selalu saya.

Namun, pagi itu ketika dia berjalan ke teras rumah kami. Papa tiba tiba terjatuh. Lidahnya tertarik ke dalam tenggorokan. Ia tak dapat bicara, tangan dan kaki kanannya lumpuh. Sejak hari itu dia tidak lagi memanggil nama saya untuk minta di urut. Ia terkena serangan stroke, dia lumpuh. Saya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu berasa ambruk. Saya tidak siap. Perjalanan sekolah saya tidak mulus. Celana robek, bolos sekolah, film porno, seks bebas, main band, hingga lintingan demi lintingan Marijuana. Beruntung saya takut dengan jarum suntik. Jika tidak, mungkin bisa bablas ke narkotika alat suntik.

Semua berubah begitu cepat. Papa tidak lagi minta urut, tidak lagi marah jika kami pulang terlalu malam. Papa hanya menghabiskan waktu di kursi roda. Berjuang melawan keinginannya untuk makan makanan favoritnya babi rica rica dan sop kaki kambing. Sejak dia stroke itu makanan yang paling dilarang dokter. Perubahan hidup begitu terasa. Lulus SMA sudah malu rasanya minta uang jajan ke Mama. Mama berjuang sendiri menghidupkan kami. Mencari biaya untuk sekolah saya dan adik bungsu saya. Tak pantas rasanya, meminta uang jajan dari wanita terbaik dalam hidup saya itu.

Sakitnya Papa membuat saya bertemu dengan kebebasan. Jangankan buku filsafat, kaset album Bon Jovi Crossroad kalau ketahuan Papa pasti di bakar atau di buang oleh dia. Kata Papa itu music setan. Bayangin aja Bon Jovi aja dibilang music setan. Itulah papa, koleksi lagunya penuh dengan lagu lagu rohani Kristen. Hanya Nat King Cole dan Eric Clapton mungkin music non religi yang saya tahu masih dikoleksi olehnya. Sejak ia sakit, saya mulai terasa bebas. Tidak ada lagi music hingga buku yang dilarang dibaca olehnya. Guns N Roses, Metallica, hingga Marilyn Manson jadi koleksi. Syair dan prinsip hidup mempengaruhi banyak hal dalam diri saya. Sampai music music hardcore, rap membawa saya ke bacaan bacaan sosialis hingga nihilisme memperkenalkan saya dengan Friedrich Nietzhie. Dari sini saya ragu dengan Tuhan.

Masa masa kebebasan, berubah menjadi masa masa berpikir. Lalu bertransformasi menjadi masa masa mengkritisi Tuhan. Lalu hilanglah iman saya. Yang tersisa hanya pertanyaan demi pertanyaan tentang apa itu Kebenaran? Sampai ada masa dimana sebuah band Rage Againts The Machine memperkenalkan saya dengan Malcolm X, dan Malcolm X memperkenalkan saya dengan Muhammad Ali, dari kedua figure inilah saya jadi tahu tentang Muhammad Bin Abdullah, laki laki yang membawa sebuah warisan bernama Islam. Disinilah titik pencarian baru, dan dalam perjalanan itu saya bertemu dengan mereka yang dikenal sebagai Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Ali Utrujjah

Awal saya bergabung di PKS berawal dari keinginan belajar Islam. Murni itu. Karena saat saya masuk Islam, saya tidak lantas bisa percaya Allah itu ada 100%. Sisi keatheisan dan filsafat saya sudah terlanjur penuh pertanyaan soal eksistensi Tuhan. Ali Utrujjah adalah orang yang merekrut saya ke PKS. Dalam pengajian yang kami kenal dengan istilah liqo inilah saya pertama kali belajar baca Al Qur’an. Terbata bata setengah mati. Satu kelompok liqo ada 5-8 orang. Termasuk Ali tentunya. Hanya saya yang pemula. Anggota yang lain membaca satu halaman bisa semenit hingga dua menitan. Saya, satu kalimat aja bisa 15 menit. Begitu terbata bata. Tapi Ali, tidak pernah ragu. Dia selalu sabar memotivasi saya, menyakinkan guru ngaji kami waktu itu bahwa saya serius masuk Islam.

Hingga, kelompok liqo kami harus dipisah ke Ustad yang berbeda. Saya berpisah kelompok dengan Ali. Ali tidak pernah tahu saya kehilangan beliau. Yang berat dari PKS untuk saya adalah tugas menghafal Al Qur’an. Kalah itu juz 30 jadi tugas pertama hafalan. Surat An Naba. Parahnya saya tak pernah bisa tembus ayat 20. Hafalan saya selalu hilang. Kendala utama saya adalah kegelisahan pikiran dan perut saya. Pikiran saya dihantui rasa rindu pada orang tua yang belum bisa menerima keputusan saya masuk Islam. Saya harus hidup sendiri, luntang lantung dari rumah teman ke teman berharap bisa dapat makan gratisan. Itu belum termasuk segudang pertanyaan yang menghantui alam pikiran saya. Tentang Tuhan, Agama, Kebenaran dan jati diri. Saya tidak tahu kalau ketidakmampuan saya menghafal Al Quran itu berdampak pada penilaian tentang keseriusan saya masuk Islam. Gara gara itu, tidak sedikit orang mulai meragukan keseriusan saya masuk Islam. Sementara Ali, ia sudah tidak menemani saya. Tidak hanya pisah kelompok. Ali bahkan berhenti liqo, karena kesibukan beliau mencari nafkah.

Ali adalah seorang petarung. Sebelum kami berjalan di jalan hidup kami sendiri sendiri. Ali Utrujjahlah yang menitipkan sebuah kenang kenangan. Ia membelikan saya sebuah buku berjudul “101 Sahabat Nabi” karya Hepi Andi Bestoni. Dari buku itu dia suruh saya membaca biografi seorang sahabat nabi bernama Abu Dzar Al Ghifari Ra. Kata Ali, sifat saya mirip Abu Dzar. Punya semangat, tapi masih banyak keterbatasan yang harus di evaluasi.

“Abu Dzar itu sahabat yang mati sendirian, dengan kain kaffan yang tidak cukup untuk menutup jenazahnya” itu cerita Ali Utrujjah sebelum saya membaca habis buku 101 Sahabat Nabi itu.

Sebelum kami jarang ketemu. Saya pernah menghabiskan waktu berdua Ali. Hari itu dia bercerita soal cita cita dia memiliki keluarga. Dia bercerita soal sahabat nabi yang lain. Sahabat nabi yang cerdas dan mahir berpuisi. Sahabat itu bernama Thufail. Ali ingin memberi nama anaknya Thufail.

“Tapi gue pengen kasih nama itu ke elo aja” Kata dia di sore itu, sejak saat itu. Ali memanggil saya Thufail, dan saya menambahkan kata Al Ghifari dari nama Abu Dzar Al Ghifari. Sejak itulah saya punya nama Islam bernama Thufail Al Ghifari.

Tidak hanya kehilangan Ali. Segudang dinamika memberi saya banyak pelajaran. Berpisahnya saya tengan Ali, membuat saya seperti kehilangan pegangan dan teman sharing. Seiring waktu, saya semakin sadar. PKS bukan tempat saya. selain saya tidak puas  dengan segudang jawaban pertanyaan yang tidak saya temukan di komunal ini. Kecurigaan yang berbuah bola salju tuduhan negatif tentang saya pada akhirnya membuat saya lebih memilih tidak ada di PKS, terlebih memang saya merasa dibuang oleh orang orang yang saya percaya begitu dalam di komunal ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here