Ini mama saya, ibu pendeta gembala sidang Yerika Nuryati Habibu. sebelah kiri istri saya Tina Umminya Saif kader Hizbut Tahrir Indonesia. sejak dibubarkan pengajian HTI berubah nama jd majelis qurani dan macam macam label. gara gara HTI istri saya menutup aurat, paham menjadi istri sesuai tuntunan agama. HTI ngajarin istri saya jd muslimah bukan teroris. HTI ngajarin istri saya sayang sama orang tua walau dia beda agama.

Semalam, Senin (13/08/2019) Mama datang ke kedai kecil saya, Mama bawa hadiah sarung untuk saya. jangan lupa sholat katanya. Ibu pendeta sudah berumur 67 Tahun. masih kuat keliling Indonesia. Tekun ajak orang kristiani rajin ke gereja. Mama, kalau jemaat gereja sudah kumpulkan 10% dari pendapatan bulanan mereka, kebiasaan itu dikena dengan nama perpuluhan, di islam mirip dekat zakat. kalau perpuluhan sudah kumpul. Gereja selalu alokasikan dana untuk fakir miskin. beli beras. beli sembako. di salurkan tanpa bedakan agama, didalam beras ditulis “dari Tuhan Yesus”, kristenisasi? bukan! itu memang perintah agama bagi mereka yg berkenyakinan kristiani.

beberapa tahun lalu, sahabat saya Ismail Ibrahim masuk penjara. dituduh macam macam. Ia ditangkap polisi arena dia protes pendirian gereja di bekasi utara. diciduk polisi. saya ingin menjenguknya, istrinya bilang jangan. karena tahu posisi saya yang bisa terancam. Saat itu, banyak kelompok hujat Rahmat Efendi walikota bekasi, dan kita tahu wakilnya siapa.

Dua kasus diatas, juga menemani banyak diskusi yang saya lewati. bahkan hingga ruang ayah angkat saya Doddy Elzha MF. ketika bahas ditangkapnya sahabat saya itu. saya bilang ditangkapnya Ismail bukan salah Rahmat Efendi, tapi SALAH SAYA. banyak sahabat bertanya knapa? saya jawab “saya ini bisnisman, harusnya saya mampu menebus tanah gereja itu. saya beli seperti Ustman RA membeli sumur.semua masalah beres”.

saya diundang ke komunitas sukses berkah oleh Abu Sofian dan Mohamad Machsan, ada dilingkaran utama mereka yg disebut pengusaha muslim. foto bersama presiden komunitas bisnis muslim Tangan Diatas, tapi patungan perpengusaha muslim untuk tebus tanah gereja saja tidak mampu. dan saya terdiam bisu ketika sahabat saya itu dijebloskan, sambil pada saat yang sama Mama harus dituduh kristenisasi padahal ia hanya ingin memberi memberi dan memberi.

Pada saat yang sama, di dimensi hidup berbeda. sekitar 9 tahun lalu. Seorang anak kecil pernah naik mobil pas pasan dari cirebon ke jakarta untuk ketemu ‘idola’nya bernama Thufail Al Ghifari. Beberapa tahun kemudian, anak itu berubah. dengan semua keterbatasan. Dia mengumpulkan orang disekitarnya. membuat sebuah gerakan kecil bernama “Sebar Sedekah Barokah” hasil usahanya disisihkan untuk membeli beberapa puluh nasi bungkus lalu disalurkan ke pengemis pengemis, fakir miskin di sekitar Bekasi Utara. dan masih lanjut hingga hari ini. anak yg salah mengidolakan rapper ngak jelas itu adalah Miki Kosasih. kini dia sibuk menjadi ketum sebuah komunitas dakwah remaja bernama Punkajian.

Tiga perspektif kisah nyata diatas. Sering membuat saya dilematis. terlebih ketika suhu politik industri praktis sedang bemannas. Isu agama sering jadi komoditas menggiurkan untuk digoreng sedemikian rupa. Tak bisa dipungkiri, kita duduk dizaman muslihat. saat agama jadi mesiu attack dog kepentingan politik. kita dipaksa sepakat pada retorika topeng dan black campaign pembunuhan karakter daripada port folio kebaikan. hijrah kita dipaksa sibuk mencari mencari cela aib politik dibanding menghargai pertanyaan pertanyaan kritis. kita disuruh terus mengingat keburukan orang dan fokus pada pembunuhan karakter. padahal Rasul kita mengajarkan kita jika urusan tidak diserahkan pada ahli tunggulah kehancuran itu.

Jangan lupa ketika Abu Bakar Ba’asyir diminta oleh Amerika untuk diserahkan ke washington, Megawati yg menolak menyerahkan, ibu Mega bilang “ia dicintai oleh begitu banyak bangsaku” kata mega. jangan lupa yg menutup tempat prostitusi terbesar di surabaya bukan kader partai Islam, tapi ibu risma kader partai yg dianggap partai penista agama. pada saat anda berpikir sepeti ini, mungkin anda akan dituduh liberal dengan müdah. Itulah mental attack dog. kita dipaksa menjawab iya tanpa bertanya, mengungkapkan kegelisahan persepsi. saat hati anda menemukan ganjalan ganjalan analisa dan persepsi kritis.

Padahal, berinsepsi dengan pemikiran kita, bersikap kritis adalah anugerah. karunia terbesar Allah setelah hidayah adalah berpikir. Bukan semata krn benar dan salah Islam itu ada, tapi karena simbol keadilan yang nyata. siapa yg paling Adil diantara Jokowi dan Prabowo? teruslah menggali informasi, sambil terus mengikuti babak demi babak perjalanan pilpres 2019. dari saya yang yakin diruang politik ini bahwa orang sekelas Erdoganpun tidak lepas dari kasus korupsi.

ya Rabb jauhkan kami dari orang orang seperti ini, yg ketika kami bilang Risma PDIP menutup dolly,tempat pelacuran terbesar di Surabaya, kami langsung dituduh pro jokowi, waktu kita kritis apa hubungannya masa lalu Sandiaga Uno di sekolah kristen dengan verifikasi kapabilitas port folio dia sebagai cawapres 2019 kami langsung di tuduh pro prabowo. Jangan biarkan hijrah kita, terjebak dalam dangkalnya persepsi sektarian juga logika reaksioner yang berlebihan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here