Jika menemukan Tuhan adalah harus dengan melihat dan merabanya, maka saya rasa saya belum menemukan Tuhan hingga hari ini. Tapi bisikan tentang terus berjalan itu memang sesuatu yang tidak bisa saya bagi dalam tulisan semata. Merasakan bisikan itu memang seperti sesuatu yang begitu kuat. Yang berbicara baik dalam pikiran dan hati. Bersama bisikan itu saya merasakan banyak keajaiban keajaiban.

Seperti kekuatan yang saya tidak pernah bisa bertemu untuk melihat dan merasakannya. Tapi saya benar benar merasakannya. Apakah ini Tuhan? apakah sesuatu itu Tuhan? Tuhan? entahlah pertanyaan soal keberadaannya tidak pernah hilang. Hingga suatu hari saya merasakan begitu takut. Saya makan apa kalau tidak ada mama dan papa? saya tidur dimana kalau saya pergi dari rumah? saya menangis dimana ketika saya merasa begitu takut? segudang pertanyaan itu muncul ketika saya memilih pergi dari rumah. Bisikan itu terus berkata di hati saya. Terus berjalan, berjalan. berjalan saja.

Belum, belum masuk Islam saat itu. baru keluar rumah saja. Hanya sahabat saya Arif Attack, basis di sebuah band rap metal bernama Stompkin. Band yang digawangi saya sebagai vokalis. Udenk ex The Cruel Bandung sebagai gitaris, Oca sahabat saya di drum, dan Miko Valent di turntable. Miko sekarang sukses sebagai seorang sound man. Band Sekelas Seringai hingga Dead Squad jadi langganan tetap beliau. Zaman itu kami semua ada di jalan jalan Bekasi. Jadi penonton galaknya Themfuck Jeruji Hingga Ivan Scumbag vokalis lawas Burgerkill. Atau menyimak orator Ridwan garputala membela hak hidup buruh di sepanjang jalan Kota Bekasi hingga Warung Bongkok Cibitung. Hari hari itu, kami semua sibuk dengan pencarian. Ibadah kami adalah bernyanyi bersama di gigs gigs Underground.

Sementara dibalik teriakan dan nyanyian itu, saya menyimpan kebingungan. mau kmana arah hidup ini? setelah lulus SMA ini mau kemana? setelah pergi dari rumah ini mau kmana? Arif Attack pemain bas di band kami saat itu, Dia tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu, yang paling kalem dan bijaksana. Dialah orang pertama yang pernah saya utarakan keinginan saya masuk Islam, dan orang pertama yang menyuruh saya membatalkan niat itu.

“Lu jangan main main sama agama, sensitif banget, kalau lu masuk Islam terus lu ngak kuat, murtad lagi nanti jadi kayak main mainin agama” begitu nasehat Arif di kamarnya.

Tapi waktu terus berlalu. Saya sudah terlanjur tidak mau pulang. Saya jatuh cinta, pada Islam? bukan pada filsafat. saya suka berpikir, suka sekali bertanya, suka sekali mencari. pertanyan soal Tuhan sekali lagi semakin mendalam. Apakah Tuhan itu eksis? Saya lapar sekali sore itu di distro. Memikirkan omongan Arif Attack bikin saya cuek. Hati saya terlalu egois untuk mengalah. Karena dihati kecil ini, bisikan itu terus menjalan. Terus berjalan, Terus bergerak bisiknya.

Tuhan saya lapar. sementara kaset distro belum ada yang laku.  Biasanya saya numpang makan di rumah Andri, tapi sering juga saya tahan. Sudah hampir tiga bulan saya tidur di distro. Numpang mandi di rumah dia yang ada diseberang distro kami. juga numpang makan. Kadang rasa ngak enak lebih dominan. Sering juga saya berdusta. lapar tapi saya bilang sudah makan kala teman teman bertanya soal kondisi perut saya. Biasanya, kedustaan saya terjawab dengan nasi uduk yang dibawa Oca. Dia sering terasa lebih cuek tapi lebih bisa nebak bohongnya saya.

“duit darimana lu beli makanan?” tanya dia biasanya sambil membawa sebungkus nasi uduk. Biasanya oca datang sore. Lumayan satu bungkus nasi uduk bisa buat bertahan hingga esok hari. itu juga kalau dia datang, kalau ngak ya tahan, sampai dipaksa paksa Andri untuk makan dirumah.

Apakah nasi uduk itu bagian dari rejeki dari Allah? dari Tuhan? saya tidak tahu. saya belum punya pemikiran sejauh itu saat itu. yang saya tahu saya bisa makan. saya gelisah, antara mencari jawaban dan mencari kebutuhan perut saya. sementara tujuan hidup masih belum jelas mau kemana.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here