Ini tempat kerja baru saya. saya sangat tidak terbiasa dengan rutinitas bangun pagi. kami harus bangun jam 4 subuh. Sholat subuh, lalu langsung ke kampus. delapan toilet mahasiswa dan 4 laboratorium harus sudah bersih sebelum jam 7:30 pagi. karena pada jam tersebut mahasiswa mulai berdatangan.

Inilah tempat pertama kali saya belajar soal kerendahan hati. merasa gengsi hidup saya digampar. setiap pagi, hampir dia tiap toilet itu ada tinja yang tidak disiram. entah apa karena mahasiswa sengaja tidak menyiram atau memang ketika mereka buang air besar air tidak cukup untuk sekedar menyiram sisa tinja mereka. Baunya bukan main busuknya, joroknya bikin saya mau muntah.

Tidak selesai disitu, banyak teman teman yang saya kenal saat di sekolah saya sapa justru merasa tidak mengenal saya. Hinanya saya saat itu. mengerjakan pekerjaan yang jorok, membersihkan toilet, beberapa bulan kemudian saya dipindah tidak lagi mengurus toilet tapi taman taman di kampus itu. lebih terbuka lagi. saya membersihkan taman di tempat terbuka. di depan anak anak nongkrong. ah harusnya saya nongkrong bersama mereka, kenapa ini jadi seperti rendah sekali? pertarungan hati dan gengsi begitu tinggi saat itu.

Itulah dinamika hidup pertama saya. dulu saya suka ngerjain cleaning service di mall. saat mereka habis ngepel lantai, saya sengaja lewat injak injak bekas pel yang basah dengan sepatu kotor saya. lalu mereka akan pell lagi, lalu saya lewati lagi, setelah itu saya tertawa bersama teman teman. menganggap itu hal yang lucu. dan saat saya bekerja di kampus bapak sebagai cleaning service, saya teringat semua kekonyolan saya itu. kekonyolan ketika SMA dulu.

Semua kacau, gengsi, malu membuat fokus saya rusak, saya dipecat. terlebih setelah saya tak mampu melawan gengsi saya. saya malu. saya dipecat. ini proses terberat pertama yang harus saya lewati.

Jadi Guru Olahraga

Setelah berhenti, saya bingung mau kemana. Namun hampir setahunan di kampus itu. saya sempat bergabung dengan pengajian dari Partai keadilan Sejahtera (PKS). ustad yang menjadi guru ngaji saya ternyata seorang kepala sekolah di sebuah sekolah menengah. Dia tahu masalah saya, tapi saya tidak terlalu akrab untuk berani curhat masalah gengsi yang terus saya lawan. Saya ditawarkan jadi guru, padahal saya tidak punya basic jadi guru, apalagi guru olahraga. ya ampun, cuma butuh tiga hari sejak saya keluar dari kampus, saya langsung dapat kerja jadi guru.

pertanyaan itu muncul lagi. Apakah saya bisa jadi guru olahraga ini bagian dari rejeki dari Allah? dari Tuhan? saya tidak tahu. saya belum punya pemikiran sejauh itu saat itu. yang saya tahu saya bisa makan. dan saya tetap masih gelisah, antara mencari jawaban dan mencari kebutuhan perut saya. sementara tujuan hidup masih belum jelas mau kemana. yang saya tahu saya hanya mengajar.

Tapi tidak lama. Lingkungan Islami saat itu bikin saya keki, saya belajar untuk menjalankannya, tapi hal terberat adalah ketika tanggung jawab menghafal Al Aquran. ini berat sekali. kadang saya sudah hafal tiga ayat, besok hilang lagi, karena fokus saya selalu terbelah. kalah menghafal, kegelisahan atas masa depan saya juga terus mempengaruhi pikiran saya.

Sementara rasa haus saya untuk mencari jawaban atas pertanyaan saya terus muncul. Sayapun ikut pengajian pengajian dimana saja. mulai dari Radio Dakta Bekasi, ke mana mana. dan itu menurut pengajian Ustad yang jadi kepala sekolah di tempat saya mengajar berbahaya. Tapi saya tidak menemukan alasan logis, lagi lagi hati saya berbisik untuk terus berjalan, untuk terus bergerak,

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here