Saya terus teringat perjalanan saya. Curah hujan begitu tinggi tahun itu. Bekasi banjir. Pada saat yang sama distro mau tutup karena penjualan kaset dan merchandise sepi. Bingung saya mau kemana, kalau distro tutup atau bangkrut saya mau tidur dmana lagi? suatu sore sebuah motor lewat depan saya.

Dulu saya tinggal disebuah perumahan bernama Taman Kartini di Bekasi. Ada banyak sahabat disana. yang paling berkesan jelas Rio Ricardo, Salim dan Atenkblast yang kini jadi gitaris di sebuah band metal Panic Disorder. Tapi yang lewat naik motor depan distro itu tidak kalah istimewanya. Mas Iyut, teman main semasa kecil di perumahan kecil di Bekasi tersebut. Anak seorang rektor dari kampus ternama di Bekasi.

Dia mampir tanpa terduga. dihari hari ketika distro kami mau tutup. Dia sedang cari orang untuk jaga rumah orang tuanya. Kata dia bapak perlu orang untuk jagain tukang. Dia butuh semacam mandor, untuk kamar tidur ada dan makan tiap hari disiapkan. Alhasil, kegelisahan sayapun terjawab, Setelah distro tutup, saya jadi mandor di rumah mas Iyut. Lumayan makan dan tempat tidur gratis selama tiga bulan renovasi rumah beliau. saya bisa tidak kelaparan.

Lalu pertanyaan itu muncul lagi. Apakah kehadiran mas Iyut itu bagian dari rejeki dari Allah? dari Tuhan? saya tidak tahu. saya belum punya pemikiran sejauh itu saat itu. yang saya tahu saya bisa makan. dan saya tetap masih gelisah, antara mencari jawaban dan mencari kebutuhan perut saya. sementara tujuan hidup masih belum jelas mau kemana.

Tiga Bulan Kemudian

Tak terasa tiga bulan berlalu. distro sudah tutup. rumahpun sudah beres. seperti lagi akan ditempati lagi oleh keluarga mas Iyut. dan Saya harus pergi tidak tahu harus kemana. Sampai ada pesan dari Mas Iyut bapak mau ketemu sebelum saya pergi. Sayapun mengiyakan. Bapak mas Iyut adalah seorang tokoh pendidikan di Bekasi. sosok dari sebuah yayasan pendidikan islam ternama dan cukup tua di Bekasi. Rektor itu memanggil saya di rumahnya ditanya.

“kalau rumah sudah jadi kamu mau ke mana?” tanya dia malam itu.

“ngak tahu pak, paling ngumpul dengan teman teman lagi” jawab saya

Bapak tahu saya sudah masuk islam saat menjaga rumahnya. Syahadat saya di bimbing ustad? tidak dibimbing sahabat saya yang orang gila semua. Seperti Rio Ricardo, tetangga saya di blok A jadi saksi. dan yang bimbing saya seorang keturunan Arab bernama Salim. keluarga Habib yang tidak mau dipanggil Habib. Kami cuma syahadat di depan tumpukan kayu bangunan berdebu. Berteman sahabat.

“ya lu udah masuk ISlam” saya ingat Salim cuma ngomong begitu aja usai saya mengikutinya membacakan dua kalimat syahadat.

“Udah gini aja?” tanya saya

“Terus cara sholat gmana?”

“Nah itu dia chard, masalahnya gue jarang sholat” Rio nyeletuk ngasal sambil diiringi tawa teman teman. Entah ketawa bahagia karena saya masuk Islam atau karena ngetawain si Rio yang ngeyel jawabnya.

“udah gue pernah denger kata Ustad, baca al fatihah udah sah kok sholat, lu hafalin deh tuh surat al fatihah. lu sholat pke itu aja” jelas Salim, si Habib yang ngak mau dipanggil habib ini.

Jadilah gara gara mereka selama setahun pertama saya sholat cuma baca Al Fatihah. karena memang tidak ada yang membimbing, saya ngak paham soal pengajian ini itu. Hanya malam itu saya berdiri di depan bapak. ayahanda mas Iyu.

“Kamu katanya masuk Islam ya chard?” tanya bapak.

“iya pak” jawab saya.

“orang tuamu sudah tahu?” tanya bapak.

“belum pak, mereka pasti ngak setuju” jawab saya

“oh, kamu mau kerja?” tanya bapak

“Ijazah saya di rumah pak, ktp saya juga ngak ada.” jelas saya.

“kamu mau gantiin saya jadi rektor ngak?” tanya bapak bercanda

saya senyum senyum, “ya ngak lah pak”

“besok kamu ke kampus ya, ketemua bapak ini, bilang saya yang suruh. bilang aja kamu mau melamar kerja.

Hari itu, sayapun berangkat ke kampus itu. kampus ternama di Bekasi. ngak bawa KTP apalagi IJAZAH cuma selembar kertas ditulis menggunakan pulpen berisi biodata sederhana. Saya diterima jadi cleaning service. saya dapat tugas kebersihan. Membersihkan 8 toilet kampus, dan 4 ruangan laboratorium dari kampus komputer tersebut. Gajinya jelas UMR. Bahagia banget, lagi lagi bisikan itu terus menghantui saya. ia berbisik untuk terus berjalan, untuk terus bergerak.

pertanyaan itu muncul lagi. Apakah kehadiran lapangan pekerjaan untuk saya ini bagian dari rejeki dari Allah? dari Tuhan? saya tidak tahu. saya belum punya pemikiran sejauh itu saat itu. yang saya tahu saya bisa makan. dan saya tetap masih gelisah, antara mencari jawaban dan mencari kebutuhan perut saya. sementara tujuan hidup masih belum jelas mau kemana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here