Kamu mungkin bisa berlari, tapi kamu tetap tidak bisa bersembunyi dari waktu. Itulah makna hidup yang paling memojokkan saya, memaksa saya untuk jadi orang yang harus kuat, lebih kuat lagi lagi dan lagi. Keresahan terakhir dari perasaan tidak pantas ada dalam sebuah pentas dakwah. Setelah hal yang saya lewati di kantor jurnalisme terakhir saya itu tak lebih dari sebuah keresahan bahwa saya bingung harus berjalan kemana lagi.

Perasaan sedih sudah pasti ada, ditambah bingung. Hari itu saya cuma merasa tidak ada lagi orang percaya dengan saya. Entah apa video yang merekam saya di malam tersebut itu sudah disebarkan diam diam. Atau, ini hanya sebuah ketakutan atas begitu lelahnya dinamika perjalanan saya mencari Tuhan.

Bukan manusia yang menakutkan bagi saya. Tapi Waktu, dimanapun kamu terdiam, hilang semangat, melamun dalam kegelisahan. Saya sadar, waktu tetap bergerak. Mengikir kulit saya bertambah keriput, mewarnai rambut saya yang beruban terlalu dini. Atau sekedar menambah sesak di dada kiri saya, yang saya tahan selama bertahun tahun. Apapun itu, waktu tetap berjalan ke depan.

Kebingungan saat itu, membuat saya flashback untuk melihat ulang perjalanan saya sejak 2002 mencari Tuhan di pilihan akhir sebagai seorang yang Insya Allah Muslim. Ingin sekali berlari hari itu. Iya hari itu sekitar tahun 2011 ketika saya mulai gelisah. Seperti ada yang terus berbisik. Bahwa tempat saya bukan disini, iya disini. Ditempat dimana begitu banyak orang baik, dan terus memperbaiki diri. Sementara saya, terjebak dalam ruang kegelisahan. Tapi kehadiran seorang anak dari satu orang istri saya. Seperti sebuah kesempatan terakhir.

“Kamu tidak perlu membuktikan pada manusia, kamu hanya perlu buktikan pada Allah” saya ingat petuah  Istri saya dikala sunyi itu begitu menguatkan. Hari itu di tengah tahun 2011. Ketika saya sadar, saya harus pergi. lebih tepatnya pergi untuk pulang ke pelukan Istri saya. Untuk kembali tersadarkan bahwa masih ada keluarga yang percaya pada saya, ketika saya merasa saya sudah hancur.

Malcolm X dan Rage Againts The Machine

Dirumah, ketika saya mulai berpikir soal masa depan anak saya. Soal sandang pangan dan papan istri saya. Ketika ketakutan semakin meraja dan pertanyaan semakin menusuk di kepala dan hati, apa saya mampu melewati semua ini? Saya hanya teringat dengan semua runut sejarah panjang saya. Dari tahun 2002 hingga 2012 ketika saya memutuskan total menghilang. Saya mereview ulang, seperti menonton film dokumentasi di kepala saya. yang bayangannya seakan memunculkan sebuah layar kecil di langit kehidupan, dan hanya mata saya yang bisa melihat film dokumentasi dari memori kepala saya itu.

Di mulai dari hobby bermusik. Musik Sex Pistol, Rage Against The Machin, atau musik metal sekelas metallica, atau glamournya Guns N Roses dan politiknya Sepultura. Semua habis dilahap, dengan ending terfavorit pada amarah dari syair syair band seperti Marilyn Manson. Syair syair lagu dan musik yang saya dengar amat sangat mempengaruhi cara berpikir saya.

Hingga ayah saya jatuh sakit. Penyakit stroke yang di deritanya cukup membuat saya sedih. Semua dimulai disini. Keliaran pencarian saya tidak terbendung. Buku buku seperti filsafat dan pemikiran saya lahap. Cara berpikir saya mulai anti agama, anti Tuhan. dan semakin dan semakin bertambah liar. Tapi Rage Againts The Machine, band favorit itu merubah banyak hal dalam pencarian saya. Satu kalimat dalam salah satu lagu mereka berjudul Wake Up. merubah perspekstif saya soal filsafat.

“Networks at work, keepin’ people calm
Ya know they murdered X
And tried to blame it on Islam
He turned the power to the have-nots
And then came the shot”

Dari potongan lagu tersebutlah, saya menggali maksud kata X. ternyata X yang dimaksud disini adalah Malcolm X. Sayapun mencari tahu siapa diri lelaki yang ternyata sahabat dari petinju legendaris Muhammad Ali ini. Dari Malcom saya kenal Muhammad Ali, dari kedua orang ini nama Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam membuat saya penasaran. Siapa sebenarnya lelaki yang disebut sebagai Rasulullah ini.

Bukan karena saya yakin Allah itu ada saya masuk Islam, tapi justru karena saya ingin mencari Allah, mencari Tuhan. Islam jadi salah satu tempat saya mencari. Saya masuk Islam karena saya ingin mencari Tuhan, mencari laki laki bernama Muhammad dengan semua apa yang diajarkannya. Apakah ketika saya bersyahadat lantas saya percaya bahwa Allah itu 100% ada? saya jawab, TIDAK! bahkan saya tidak percaya Tuhan sama sekali saat saya syahadat. Tapi dihati kecil saya merasakan sesuatu, sebuah bisikan. Sederhana, bisikan itu ada dihati kecil, bisikan itu hanya menyuruh saya satu yaitu terus berjalan, berjalan ke depan. Mengikuti waktu yang tidak berjalan ke belakang.

Islam dan Penyakit Stroke Papa

Suara suara beat hip hop, distorsi kasar musik hardcore hingga metal. Atau sekedar solo blues Eric Clapton, salah satu musisi favorit Papa saya. semua itu jadi ruang edukasi yang menciptakan rasa kritis dalam diri saya. Hingga rasa ingin tahu soal Malcolm X, Muhammad Ali hingga Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam harus membentur saya pada sebuah keputusan. Masuk Islam untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan pertanyaan saya soal Tuhan, Kebenaran dan Agama? atau tetap berpura pura menjalani kenyakinan sebelumnya dihadapan orang tua saya, padahal hati saya sudah tidak percaya Tuhan itu ada.

Itu adalah momen tersulit pertama saya. Jika saya memilih masuk Islam, jelas orang tua saya tidak setuju. mereka pemuka agama di agama mereka, terlebih saat itu Papa saya sedang sakit stroke. Papa sudah lama sakit stroke. Beliau lumpuh sejak saya lulus SMP. Hingga mau akhir semester kedua kuliah saya di Bandung, beliau belum sembuh, tapi terus membaik. Hari itu jika ia tahu saya pindah agama. tentu dia akan terpukul. Dan kondisi dia pasti akan sedih dan marah. seperti untuk proses penyembuhan penyakit stroke, dokter berharap Papa jangan dibikin sedih dan marah. karena itu akan memperburuk proses penyembuhan dia. Bahkan akan bertambah buruk lagi penyakit strokenya.

Sayapun menghilang, diam diam. Tidak pulang ke rumah. Ia marah, mencari tahu saya. Bahkan ketika tahu saya pindah ke agama lain. Ia jelas marah, kondisinya tidak membaik. penyakit stroke yang membuatnya lumpuh justru terus bertambah para. Ia semakin tidak bisa berjalan. dan saya tetap harus memilih. entah itu suatu kebodohan atau tidak, tapi hati saya begitu egosentris untuk tetap memutuskan mempelajari dan mencari tahu jawaban jawaban tentang Tuhan di kepala saya. Dengan semua kesedihan yang saya simpan, saya memilih tidak pulang. Mulai tingga di sebuah distro kecil komunitas kami, di daerah Agus Salim. Dirumah seorang sahabat bernama Andri, sekarang dia jadi gitaris disebuah band metal bernama Radungga.

Saya mulai hidup dijalan, lebih tepatnya numpang di distro teman teman waktu itu. Tidak mau pulang, karena takut melihat papa. Bukan takut dimarahi, saya takut tidak kuat melihat kesedihan dia. Saya mulai berpikir hidup sendiri, mencari uang sendiri. Dan mulai menghidupi diri saya sendiri.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here