Hari itu, Pagi itu. Saya berada di kantor terakhir saya. Di sebuah institusi pers ternama dalam dunia Islam. Menjadi wartawan adalah pekerjaan kantoran terakhir saya. Karena hari itu, didalam ruang utama redaksi. Hanya saya dengan pimred Institusi pers itu berbicara. Dimulai dari meeting kordinasi. Di jawab dengan sebuah kalimat yang terus teringat oleh saya

“Thufail, lebih baik kamu tidak disini. potensi kamu besar, jauh lebih baik kamu berjalan sendiri” kalimat itu keluar begitu tenang dari mulut figur pers Islam paling saya kagumi dalam perjalanan jurnalistik saya.

Hari itu, keluar dari ruangan itu. Saya bingung mencerna kalimat itu. Apakah itu sebuah pujian? motivasi? atau justru mengusir saya secara halus. Dirumah saya sampaikan hal itu ke istri saya. Saya bilang saya bingung dengan kalimat itu. Apakah itu pujian dan motivasi atau ingin menyuruh saya pergi secara halus. Saya bertanya itu ke istri saya. Namun, dia tidak menjawabnya. Mengalihkan topik yang saya selalu saya tanyakan.

Kalimat itu begitu traumatik buat saya. Karena sekitar setahun sebelumnya. Setahun dari momen pagi di kantor terakhir saya itu. Saya pernah mendengar kalimat yang mirip seperti itu. Malam itu di salah satu sisi kota di Jakarta Timur. saya pernah berbuah salah. Kesalahan yang membuat saya jadi viral twitter sebagai most wonted dengan bad attitude. Saya menghina sebuah komunitas seniman dengan kata kata tidak pantas. terlebih saya menggunakan akun sebuah fan page yang saya buat karena kekaguman saya pada sebuah band yang dulu sangat saya idolakan.

Malam itu, saya meminta maaf ke perwakilan komunitas yang saya hina tersebut. Selesai? tidak. saya justru disidang oleh sekelompok orang yang saya anggap rekan baik dalam dunia pergerakan dulu. Malam itu, Saya dikeliling oleh orang orang yang saya anggap sahabat, teman dan rekan sefrekuensi dalam apa yang disebut perjuangan agama. Tapi malam itu, suasana persahabatan itu tidak terasa. Saya seperti musuh bagi mereka. Saya disudutkan sendirian. Saya bersalah.

Tidak hanya menyudutkan saya, saya diinterogasi sambil direkam video, saya tidak tahu untuk apa sampai sehina itu saya diperlakukan malam itu. Inti dari semuanya adalah kecurigaan kecurigaan yang berlebihan terhadap saya. Yang bisa saya lakukan hanya bersabar hingga subuh. Adzan subuh yang terdengarpun membubarkan malam dimana saya disidang dengan segudang tuduhan negatif, dan tidak semua tuduhan itupun sesuai fakta. Namun, lebih baik saya diam daripada bertambah keruh.

“Kami ingin lo ngak ada disini” kalimat itu muncul dari salah seorang diantara mereka, kata ‘disini’ merepresentasikan dunia dakwah. saya menerimanya seperti itu.meskipun sepele tapi buat saya itu cukup mendalam melukai hati saya. seperti sebuah pertanyaan sederhana namun memang cukup menampar. saya tidak diinginkan ada di dunia dakwah? sejak hari itu, menyebar lusinan berita miring soal saya. Meski retorika tabayun adalah hal yang selalu kita dengar dalam pengajian. Tapi saat itu, langit sudah terlanjur menghitam, hak tabayun untuk saya hanya sebuah mitos. Bahkan guru ngaji saya sendiri, percaya bahwa saya seburuk itu, ikut mempengaruhi rekan rekan pengajian saat itu untuk berhati hati dengan saya.

Usai kejadian itu, saya mendapat rejeki bekerja di sebuah institusi pers berbasis agama. dan saya mendengar lagi kalimat yang serupa dengan redaksi berbeda seperti yang saya cerita di awal tulisan ini. cukup membuat saya teringat kembali trauma saya. tak bisa saya jelaskan apa yang terjadi malam itu. Malam itu saya hanya berpasrah pada Allah. Asal jangan keluarga saya yang diganggu, saya merasa cukup aman.

Itulah hari hari dimana saya mulai berpikir, sudah seharusnya saya mengamini kalimat yang saya anggap “pengusiran secara halus” tersebut. Permasalahan eksistensi hingga ekonomi. Saya harus memilih. Terlebih saya rasa tidak ada yang perlu diklarifikasi. Saya memang bad boy. Untuk apa saya mengklarifikasi sesuatu pada orang yang memang sudah tidak suka dengan saya?

Kamu tahu, jika handphone kamu rusak. kamu hanya perlu menggantinya dengan membeli baru. Jika anak rusak, dengan cara apa kita menggantinya? Anak. hanya itulah ruang dakwah terakhir bagi saya. Maka ada hari dimana saya memilih mengamini keresahan saya. Lalu menghilang diam diam. Lenyap, dalam rutinitas ikhtiar mencukupi keluarga. Sebagian bilang saya futur, yang lebih ekstrem saya dibilang kafir dan sudah murtad. sebagian ada yang bilang saya sibuk dengan urusan dunia, gila dunia sudah tidak perduli dengan urusan akhirat. saya hanya mampu menjawabnya dengan diam. biarkan saja waktu yang menjawab.

2012, saya merubah haluan saya. fokus pada wira usaha. setelah gagal dalam bisnis es pisang ijo. saya mulai merintis usaha kopi. jatuh bangun sudah pasti. bangkrut sudah pasti. Tujuan saya sederhana. Kalau saya tidak bisa dapat gelar sarjana, minimal anak saya harus dapat pendidikan layak. Saya butuh uang untuk fokus mempersiapkan pendidikan anak saya, baik pendidikan agama atau pendidika kontemporer. Enam tahun sejak 2012 saya menghilang dengan kesibukan dagang. Hari ini, saya bersyukur. Justru semua proses diatas telah membawa saya ke dunia baru. Lingkungan baru yang sering saya merasa skenario Allah begitu luar biasa menjaga saya. Terutama menjadi Istri dan buah hati kami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here