Sudah enam tahun terlewati, sejak 2012. Tahun dimana saya memilih total tak lagi bicara sebagai seorang MC. Meninggalkan hiruk pikuk Rap Underground dengan semua dialektikanya. Enam tahun dimana saya harus memulai semua dari awal. 2012 seperti sebuah fase awal, setelah 10 tahun perjalanan pencarian saya pada Tuhan. Bermuara pada sebuah kenyakinan bernama Islam. Sepuluh tahun dari 2002 hingga 2012, tidak hanya tiga album rap trilogi yang saya rilis. Dibalik semua pro kontra tentang gagasan gagasan di lagu lagu saya. Dibalik semua catatan baik buruk yang berdampak baik para pendengar maupun saya sendiri. Sepuluh tahun itu mengantarkan saya ke banyak hal. Berada diatas panggung ditonton puluh ribuan kepala. Dikenal, disapa, disanjung bahkan diprotespun ada. Sepuluh tahun itu saya berkenalan, mencari dari satu tempat ke tempat lain, dari perkumpulan ke perkumpulan. Mencari jawaban atas pertanyaan pertanyaan di kepala. Pertanyaaan tak hanya soal Tuhan, tapi juga soal keselarasan perspektif, irama harmoni logika, retorika, agama dan realita. Tapi 2012, saya berbentur takdir lain. Seorang perempuan mempercayakan cintanya ke saya sejak 2008 telah membawa saya ke ruang hidup yang berbeda. dari dirinya lahir seorang anak laki laki. kami bertumbuh dalam warna perjalanan. dari situ, saya sadar retorika saya tidak cukup untuk membuktikan cinta. perlu pembelaan, perlu usaha untuk melindungi. perlu perjuangan untuk mencukupi, perlu energi untuk tak hanya bermimpi, tapi juga menggenapi mimpi. Saat itu, masalah terbesar dalam hidup saya adalah ekonomi. Suatu kenyataan yang teramat sulit. tapi memang harus saya ceritakan. Catatan waktu yang membawa saya untuk memilih hidup terus bertopeng atau biarlah orang mengenal saya dengan semua keterbatasan saya. Hari hari citra nama besar begitu menjadi beban gengsi, sementara keluarga saya lebih membutuhkan saya, untuk sekedar menyakinkan bahwa bayi kecil kami harus tetap bertahan. harus terjamin biaya masa depannya. Dari sumber penghasilan yang baik, dari bisnis yang bernilai. Saat itu, bisa saja saya meneruskan perjalanan. dikenal sebagai seorang penggerakan edukasi keagaaman, dikenal dakwah. mencari makan dari amplop amplop setelah sesumbar retorika tentang amalan agama. Tapi, jika semua itu saya teruskan. Saya hanya akan menjerumuskan diri saya terlalu jauh ke dalam kehidupan bertopeng. Karena kenyataannya saya tak memiliki ilmu yang mumpuni untuk bicara agama. Semua yang saya tulis di album saya, hanya kejujuran, apa yang saya lihat, rasakan, gelisahkan, krisiti, pertanyakan dan sebagainya, tertuang jujur dalam lagu lagu demi lagu. Thufail Al Ghifari memang perjalanan yang tak bisa saya pisahkan dalam perjalanan hidup saya. Sentuhan batin perjalanannya untuk bercinta dengan pertanyaan tentang eksistensi Tuhan dan Agama, telah membawa saya ke banyak ruang pengalaman. Dan pada 2012 saya memilih, meninggalkan semua. saya memilih menarik nafas sejenak. Demi dua orang, Istri dan anak saya. Tanpa mereka minta saya sadar. Mereka lebih butuh saya dirumah saat itu. Memberikan rasa aman, memberikan jaminan bahwa hari ini, besok, dan seterusnya saya pulang membawa bekal. Untuk mereka kenyang, untuk mereka nyaman, dan itulah fase kedua dari perjalanan saya. Setelah sepuluh tahun pertama fase pertama saya terlewati dalam kegilaan saya mencari ilmu, wawasan, menggali, mencari. menelusuri pertanyaan demi pertanyaan. untuk sebuah rasa haus atas kebenaran, rasa kritis atas keadilan, atau sekedar rasa sok tahu untuk bicara solusi. Hari ini, website ini terlalu cepat terilis. Seorang sahabat yang biasa saya panggil Mas Aris, baru saja mampir di kedai kopi kecil saya. Dia bercerita soal ayahnya yang sakit, ayahnya, salah satu yang paling cintai dalam hidupnya. Dari situ kami ngobrol, bercerita. Sambil bercerita, saya bilang saya ingin menulis lagi, saya bercerita saya suka menulis, saya ingin membuat website. tak ada setengah jam. Dia menyodorkan laptopnya ke depan saya. Masya Allah, website ini dia buatkan langsung untuk saya. Saya terdiam. Wacana membuat website untuk baru terbesit dua hari lalu, tapi, semua mengalir diluar dugaan. Saya ingin menulis, menulis lagi untuk kalian. Sebagai sebuah tanda terima kasih. kalian. yang sudah mengirim email, menginbox di instagram hingga berkunjung ke kedai kopi saya. Ingin tahu kabar saya, ingin tidak putus komunikasi dengan saya. Sesuatu yang banyak orang menyebutnya ‘FANS’, tapi cukuplah kita bersilahturahi menjadi sahabat. Terima kasih selama enam tahun ini, kalian ternyata menjadi alasan, menjadi salah satu harta terindah. Yang dulu hanya mendengar lagu lagu saya, kini kita bisa berteman sejauh ini. Semoga website ini juga bisa langgeng ya, saya usahakan semoga konsisten terus berbagi cerita, hikmah, perspektif dari banyak hal yang sudah atau akan saya lalui. salam sayang dari saya, Thufail Al Ghifari. Richard Coffeeisme – Bekasi, 2 Juli 2018

16 COMMENTS

  1. Akhirnya Thufail is back. Sedikit banyak harus diakui kalo Thufail al Ghifari udah ngewarnain hidup saya. Makasih atas inspirasinya, Bang! Salam dari penggemarmu, hehehe…

  2. Minta alamat kedai kopi nya mas
    Insya Allah saya akan mampir utk ngopi dan ngobrol, kalau mas Thufail ada waktu 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here